Tuesday, 29 September 2015

Tagged Under:

Modified Nurse Educator Method : Sebuah solusi mengurangi gap klinis dan akademis

Share
Nurse and Learning


Assalamualaikum.

Bismillah.....

Perkenalkan nama saya adalah Eri Yanuar Akhmad, S.Kep., Ns. Saya adalah kandidat Master of Nursing Science (Intensive Care Nursing) di The University of Adelaide, Australia. Saya beruntung karena mendapat pengalaman mengambil 1 tahun spesialisasi ICU dengan clinical placement di ICU Cavalry Wakefield Hospital, South Australia. Dari pengalaman di klinis tersebut, saya ingin berbagi sebuah metode yang (semoga) bisa menjadi sebuah metode untuk kemajuan perawat Indonesia terutama menjembatani gap antara klinis dan akademis.

Selama saya menjalani pendidikan klinis di sana, ada seorang perawat pendidik (nurse educator) yang bertanggung jawab pada pelaksanaan pendidikan baik bagi perawat maupun mahasiswa keperawatan yang menjalani praktek di ruangan tersebut disamping ada preceptor, clinical instructor serta academic lecturer (dosen) yang bertanggung jawab selama masa pendidikan klinis saya. Yang saya soroti disini adalah peran nurse educator. Nurse educator atau perawat pendidik adalah perawat yang bertanggung jawab pada setiap keilmuan yang berada di ruangan (sosialisasi e-learning, assessment keilmuan dan skills), serta terlibat dalam pembuatan protokol atau tindakan keperawatan (sosialisasi dan pelaksanaanya). Jadi secara mudahnya, nurse educator adalah orang yang bertugas mendidik perawat atau perawat diklat yang berada dalam unit tersebut.

Tugas nurse educator ini cukup berat namun sangat bermakna seperti:
1. Sosialisasi jika ada evidence based terbaru atau SOP terbaru
2. Mengorientasikan staf baru dan mahasiswa
3. Merencanakan dan melaksanakan CNE bagi perawat di unit tersebut
4. Mengkaji apakah perawat di unit tersebut masih kompeten atau tidak untuk bekerja di unit tersbut
5. Membantu perawat tetap kompeten dengan kompetensi untuk unit tersebut

Saya lihat sistem ini jika dijalankan di Indonesia akan sangat bagus apalagi melibatkan akademisi dan klinisi. Di Indonesia, sering kita jumpai dikotomi atau pemisahan antara akademisi dan klinisi sehingga seolah-olah terpisah antara akademis dan klinis jadi mahasiswa sering mengeluh apa yang ada di klinis tidak sama dengan apa yang diajarkan di level akademis. Ini juga menjadi PR bagi para akademisi atau dosen bagaimana agar pengetahuan yang dimiliki bisa diaplikasikan pada level klinis (atau dikenal sebagai knowledge translation)

Oleh karena itu, saya memikirkan sebuah metode yang harapannya bisa menjembatani gap antara klinis dan akademis tersebut dengan Modified Nurse Educator Method atau Metoda Modifikasi Perawat Pendidik. Dalam hal ini, dosen atau staff pengajar bisa terlibat dalam tataran klinis walaupun tidak memegang pasien selama satu shift full. Adapun peran dosen atau staff pengajar dalam Modified Nurse Educator Method ini adalah:
1. Membantu dalam pembuatan SOP serta bertanggung jawab agar pelaksanaan SOP ini berjalan seperti yang diharapkan
2. Mengkaji kebutuhan update keilmuan yang dibutuhkan ruangan atau unit sehingga bisa membantu merencanakan dan membuat CNE bagi perawat di unit atau ruangan tersebut
3. Membantu perawat agar tetap kompeten dan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan di ruangan tersebut
4. Mengorientasikan, mendidik serta mengkaji perawat baru, perawat lama dan mahasiswa sehingga sesuai dengan standar yang ada

Kenapa Modified Nurse Educator Method?
Karena ini adalah modifikasi dari metode Nurse Educator yang seharusnya orang di klinis atau berada di unit tersebut namun dijembatani oleh akademisi sebagai educator atau pendidik di unit tersebut. Saya rasa Modified Nurse Educator Method ini akan bisa menjembatani gap antara klinis dan akademis. Namun bukan berarti sistem ini tidak ada tantangannya ada beberapa hal yang harus dipikirkan dari segi klinis maupun akademis.

Adapun beberapa tantangan dari Modified Nurse Educator Method ini adalah:
1. Dosen atau staff pengajar harus memastikan masih memiliki ilmu dan kepakaran dengan kompetensi yang ada di unit atau ruangan yang akan diampu dan memastikan bahwa masih kompeten sehingga tidak diremehkan dan tidak mengajarkan praktek skills yang salah kepada perawat di unit atau ruangan tersebut.
2. Dukungan dari unit atau ruangan juga sangat diperlukan sehingga ada umpan balik baik dari manajemen maupun pelaksana sehingga terjadi hubungan mutualisme antara kedua belah pihak (akademis dan klinis)
3. Dukungan dari RS dan Universitas sehingga praktek ini bisa berjalan seperti yang diharapkan apalagi bagi Universitas atau Stikes yang tidak memiliki RS Pendidikan dan selama ini hanya "numpang" mahasiswa di RS.

Jika sistem ini dijalankan maka yang pelayanan keperawatan terbaik yang mendekati standar yang ada akan bisa terwujud dan mahasiswa keperawatan yang praktek di unit atau ruangan tersebut akan mendapat ilmu dan skills yang sesuai dengan apa yang mereka dapatkan di level akademis.

Demikian sekedar share atau berbagi pemikiran, jika ada yang tidak berkenan atau merasa tersinggung dengan tulisan saya ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Yogyakarta, 3 September 2015

disadur dari

0 comments:

Post a Comment

Berikan pendapat anda disini

Ada request?

Name

Email *

Message *

Akun Line Perawat Pintar

Akun Line Perawat Pintar
Scan dengan QR Code Reader atau klik